Dauroh Tarbawiyyah Bersama Dr Fuad bin Abduh Muhammad Ash-Shoufiy

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين و بعد.

Pada Sabtu, 29 Februari 2020 bertepatan dengan 5 Rajab 1441 H di Ma’had Al-Binaa telah dilaksanakan Dauroh Tarbawiyyah fii Ta’ziiz Kafaah Mu’allimin (Seminar Pendidikan dalam Rangka Peningkatan Kapasitas Pendidik/Pengajar) dengan pemateri Dr. Fuad bin Abduh Muhammad Ash-Shoufi (Direktur Program Beasiswa Universitas Islam Internasional Malaysia). Dauroh yang bertempat di Gedung Serba Guna (GSG) ini diikuti oleh para asatidzah ulum syar’i, para musyrif (guru asrama), serta guru-guru SD Al-Binaa.

Dari podium di samping meja pemateri, Ustadz Roni Apriyanto, Lc. membuka rangkaian acara dengan basmalah, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh santri Althof Akhmadi (kelas 12) Acara berikutnya adalah kata-kata sambutan, yang disampaikan oleh Ustadz Agung Wahyu Adhy, Lc (Kepala SMA Al-Binaa) mewakili Mudirul Ma’had. Dalam bahasa Arab beliau mengucapkan selamat datang (tarhib) kepada Dr. Fuad yang telah berkenan menyempatkan diri di tengah-tengah kesibukan beliau yang begitu padat untuk menyampaikan ilmu dan pengalaman beliau di bidang pendidikan kepada para peserta dauroh. Tak lupa beliau juga menyampaikan terima kasih kepada panitia pelaksana dauroh serta para asatidzah yang hadir mengikuti acara.

Berikutnya adalah sesi penyampaian materi dari Syekh Dr. Fuad. Sebagai pengantar sebelum masuk ke inti materi, pertama-tama beliau menyampaikan 2 poin yang mesti disadari oleh para asatidzah. Yang pertama, beliau mengingatkan tentang ‘syarof’ (kemuliaan/kebanggaan) profesi guru sebagai pendidik (murobbi), yang bertugas di medan tarbiyah untuk menjaga anak-anak kaum muslimin. Maka oleh karena itu, hal ini tidak terlepas dari poin kedua, yaitu pentingnya menghadirkan kesadaran akan besarnya tanggung jawab ini, sebab besar dan tingginya kemuliaan yang disandang seseorang tentu sebanding dengan besarnya tanggung jawab yang diemban olehnya.

Setelah sesi pengantar, beliau meminta hadirin untuk mengenalkan diri satu per satu beserta profesi masing-masing. Berikutnya beliau menyatakan bahwa sesi pertama dauroh ini akan berfokus pada materi tentang ‘Jaudah Syakhsiyyah’ (Kualitas Diri/Pribadi) Kualitas pekerjaan yang baik berawal dari niat yang baik pula: di awal, di tengah, dan di akhir proses. Beliau menekankan bahwasanya tarbiyah harus diniatkan sebagai ‘amal ta’abbudiy’ (amal yang bernilai ibadah) sehingga oleh karenanya setiap murobbi tidak boleh menggadaikan akhirat dengan dunia, dengan menjadikan ujroh (upah) sebagai motivasi utama. Murobbi harus senantiasa berkomitmen untuk menjadikan misi-misi tarbiyah sebagai tujuan utamanya. Murobbi yang mampu mengelola dan mengembangkan dirinya dengan baik kelak akan berdampak pada hasil yang baik pula, yaitu anak-anak didik yang sholih.

Di penghujung sesi pertama dibagikan form kepada para peserta dauroh. Form yang terdiri dari 20 pertanyaan ini merupakan alat ukur bagi para peserta untuk mengetahui seberapa besar skor kepribadiannya. Peserta diberi waktu 5 menit untuk mengisi form tersebut. Seusai pengisian form, sesi pertama ditutup untuk break (rehat sejenak)

Sekitar pukul 10.30 dauroh dimulai kembali. Pada sesi kedua ini para peserta diminta untuk membagi diri menjadi kelompok-kelompok diskusi. Setiap kelompok menentukan nama kelompok dan ketua masing-masing. Dr. Fuad kemudian meminta setiap kelompok untuk mendiskusikan ta’rif (definisi/pengertian) dari ‘Isyrof Tarbawiy. Hasil dari diskusi setiap kelompok disampaikan dalam forum untuk dibahas bersama-sama oleh semua.

Dalam sesi kedua ini Dr. Fuad banyak menerangkan tentang hakikat dari isyraf tarbawiy beserta peran seorang musyrif (guru asrama). Seorang guru asrama sejatinya punya ikatan emosional yang lebih erat dengan anak didiknya, sebab seorang guru asrama berinteraksi lebih panjang dengan anak didiknya di asrama, berbeda halnya dengan guru di kelas yang hanya bertatap muka sekitar 3-4 jam dalam sepekan. Oleh sebab itu, seorang guru asrama hendaknya bisa menjalankan banyak peran: kadangkala ia menjadi teman dan saudara bagi anak didiknya, di waktu lain ia menjadi mudir (seseorang yang mengarahkan dengan tegas) Sesi kedua ini berakhir pada waktu zuhur.

Baarakallahu fiikum

Laporan :

Al Akh Taufiq Nuruddin  حَفِظَهُ اللهُ

Share This Post!

Twitter kami

Mari bergabung bersama 1500 santri yang sedang belajar dan berkembang di albinaa

Menjadi bagian dari perubahan global bersama albinaa.