Alhamdulillah kegiatan pembukaan tahun pelajaran baru 2015-2016 (Haflah Iftitah) dan serah terima santri baru baik putra maupun putri berjalan lancar, acara ini telah berlangsung pada hari Ahad, 17 Saywwal 1436 bertepatan 2 Agustus 2015 yang telah dihadiri oleh seluruh santri baru Al Binaa sejumlah 312 orang terdiri dari santri putra 180 orang, santri putri 109 orang dan juga santri Yatim putra Al Binaa yang lanjut ke kelas 7 sebanyak 23 orang.

Suasana pembukaan tahun pelajaran baru 2015-2016 cukup meriah dan penuh dengan makna, seluruh santri baru kelas 7 dan orang tua santri mereka  telah berdatangan mulai pukul 06.00 wib, sementara itu acara dimulai pukul 08.30 wib sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Sejumlah pertanyaan besar muncul di benak para orang tua santri baru, apakah Pesantren Al Binaa ini bisa menjadikan dan mendambakan harapan mereka yang selama ini berharap ingin menjadikan anak anak mereka menjadi anak yang sholih. Tentu sedikit atau banyaknya bahwa harapan itu tergantung di Pesantren Al Binaa yang sudah dipilihnya.
 
Nampak-lah wajah wajah para santri baru dengan rona penuh harapan dan kegembiraan, tapi sesekali tersimpan rasa cemas dan khawatir akan ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan pola dan lingkungan di Pesantren Al Binaa. Dan rasa cemas ini bukan hanya ada di santri saja termasuk muncul juga di benak para orang tua mereka yang dengan penuh semangat seraya berdo’a kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar anak-anaknya bisa diberikan kekuatan dan kesabaran selama berada di Pesantren Al Binaa, tujuan utama mereka adalah bagaimana pada tahap permulaan tinggal di Al Binaa ini bisa mempertahankan anak-anaknya supaya betah dengan suasana yang serba asing yang selama ini tidak mereka temukan kebanyakannya di rumah-rumah mereka, membangun suasana kebersamaan dalam keberagaman watak dan kebiasaan anak-anak ketika sebelum masuk Al Binaa, intinya tidaklah mudah untuk menjadikan anak-anak baru ini bisa bertahan dan beradaptasi dalam waktu yang relatif singkat kecuali hanya merupakan “fadl” (keutamaan) dan karunia serta taufiq dari Allah Jalla wa ‘Ala.Tentu tangggung jawab mempertahankan mereka tidak mutlak ada di orang tua dan anak-anaknya saja, maka justru bagian paling besar yang menjadi tanggung jawab ini adalah ada di pihak Pesantren Al Binaa, maka tidak-lah salah dalam awal pembukaan sambutan dan tausyiah Pimpinan Pesantren Al Binaa Ustadz Aslam Muhsin Abidin, Lc di hadapan para orang tua santri baru beliau menyampaikan, bahwa serah terima santri baru ke Pesantren Al Binaa selain menggembirakan, di sisi lain malah sungguh amat berat dan menyedihkan, karena ini merupakan serah terima yang penuh resiko dan tanggung jawab dunia dan akhirat selama dalam mengembannya. Kita tahu bahwa yang diserahkan ini adalah anak, dan mereka adalah harus diberikan hal-hal yang tentunya bisa bermanfaat bagi mereka yaitu dengan bekal ilmu syari’i dan ‘asryi sebagai bekal yang dianggap paling pokok untuk kebahagiaan dunia akhirat. Di sisi lain berbeda sekali bahwa kalau yang diserah terimakan ini berbentuk barang misalkan Sedan Mercy, tentu semua orang dengan alangkah  senangnya bisa langsung mengggunakan dan memanfaatkan tanpa ada tanggung jawab dan tuntutan batininyahnya.
Maka sekali lagi sudah menjadi tanggung jawab semua asaatidz Al Binaa untuk memberikan yang terbaik untuk mereka dalam hal pendidikan dan pengajarannya. Disela-sela acara perkenalan seluruh guru-guru yang mengajar di Al Binaa pada acara Haflah Iftitah dan serah terima ini, Pimpinan Pesantren memberikan amanah bahwa guru-guru harus mempunyai niat yang tulus dan ikhlas untuk mendampingi mereka selama berada di Al Binaa. Hanya berangkat dengan start niat yang ikhlas maka proses tarbiyah kepada mereka akan mengalami keberhasilan bidznillah ta’ala.
Dalam acara serah terima santri baru tahun pelajaran 2015-2016 ini, sebagai simbolis telah diwakili dari perwakilan orang tua santri yaitu Bapak dr. Kardimin kepada Pesantren Al Binaa yang diwakili oleh Pimpinan Pesantren Ustadz Aslam Muhsin Abidin, Lc. Pak dr. Kardimin turut berkontribusi dalam memberikan gambaran , bagaimana beratnya sebagai orang tua untuk berpisah dengan anak kesayangannya yang selama ini selalu bersama dan bercengkrama dalam satu rumah. Tidaklah kita perhatikan bagaimana orang yang pertama menghuni negeri Mekkah dengan padang pasir yang tandus dan kering yaitu Siti Hajar istrinya Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam. Bagaimana perasaan seorang Istri yang kala itu sedang menggendong bayi mungilnya Nabi Ismail dan mau ditinggalkan pergi oleh Suaminya Ibrahim ‘Alaihissalaam. Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam dengan penuh ketegaran dan berserah diri kepada Allah Jalla wa ‘Ala melangkah pergi meninggalkan keduanya, Sebagai perasaan seorang Istri yang mau ditinggalkan dengan tidak tahu maksudnya maka Siti Hajar bertanya kepadanya, Kenapa  Engkau mau meninggalkan aku dan anakmu? sampai tiga kali pertanyaan kepada Nabi Ibrahim. Maka Siti Hajar bertanya lagi, Apakah ini adalah perintah Allah Jala wa ‘Ala? maka Nabi Ibrahim menengok, sambil menjawab Ya. Maka kata Siti Hajar, kalau ini adalah perintah Allah maka niscaya Dia tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Maka berangkat dari kisah inilah, bahwa in sya Allah Pesantren Al Binaa tidak akan menyia-nyiakan putra putrinya untuk menimba ilmu.
Selama 4 hari ke depan setelah para santri baru tinggal di Al Binaa, mereka akan terlebih dahulu mengikuti kegiatan Usbu’ Ta’arruf (Pekan Perkenalan) sebagai upaya dan solusi kepada mereka memperkenalkan Pesantren Al Binaa dalam bentuk “suroh mushoggoroh” (bentuk miniatur kegiatan Al Binaa). Dalam Usbu Ta’arruf ini, juga disampaikan beberapa materi tentang misi dan visi Al Binaa, materi ibadah dan akhlak, materi adab dan etika dalam berpakaian Islami serta outbond untuk menghilangkan kejenuhuan dan memupuk kebersamaan sesama santri baru.
Bimbingan praktik ibadah, seperti tata cara berwudlu dan sholat serta adzkar, sampai bimbingan ketika makan semuanya diajarkan kepada mereka selama pekan perkenalan ini, semoga putra putri bapak dan ibu diberikan kesabaran dan kekuatan untuk mencari ilmu di Al Binaa sehingga apa yang dicita-citakan  yaitu mempunyai anak yang sholih dan sholihah bisa menjadi kenyataaan buat bapak ibu sekalian. Amiin.
Disarikan oleh: Majlis Ma’had Al Binaa