Anak adalah belahan hati kita, hiasan kita di dunia dan simpanan kita di akhirat. Hal ini akan terwujud nyata jika kita mengikuti cara-cara Islam yang benar dalam mendidik anak dan menumbuhkannya pada akhlak yang mulia serta sifat-sifat yang terpuji.
Tetapi banyak di antara kita yang melakukan kesalahan dalam masalah ini, sehingga perlu ada pembenahan. Sebab tabiat anak berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Maka dari itu kita harus mengikuti cara-cara Islam yang benar dalam meluruskan penyimpangan anak dan juga dalam menghukumnya.

 Hukuman merupakan cara terakhir yang dilakukan manusia, tatkala anak menyimpang dari jalan yang semestinya atau melanggar batasan kebebasannya. Sebagian pakar berpendapat bahwa hukuman tidak diperlukan dalam pendidikan. Tetapi mayoritas mereka menyuruh memberi hukuman sebagai sarana sosial untuk masyarakat dan menjamin terciptanya kehidupan yang baik baginya pada masa mendatang. Anak yang meremehkan batasan kebebasan dan kewajibannya serta mengabaikan pemberian hukuman kepadanya, justru menyeretnya kepada
 kerusakan. Tetapi tekanan yang terlalu kaku terhadap anak juga bisa membuatnya bersikap memberontak, membangkang dan anarkis.
 Orang tua yang terlalu banyak memerintah dan melarang dengan berdalih atas nama tatanan, aturan, adab dan pendidikan, justru membuat anak sebagai pembangkang tatanan masyarakat, atau menciptakan anak sebagai seorang penakut dan menyangsikan dirinya sendiri. Dia tidak mempunyai inisiatif dan hanya menunggu perintah dari orang lain, takut melakukan sesuatu karena takut akan dicegah.

Maka dari itu daftar aturan harus dibuat seminim mungkin, selaras dengan kadar penalaran anak. Boleh jadi anak berbuat sesuatu yang lumrah menurut usianya. Tetapi kedua orangtuanya mencegah atau bahkan memberi hukuman karena dianggap tidak pas dengan penalaran orang dewasa. Kalaupun aturan sudah ditetapkan, maka aturan itu harus terus berlanjut. Sebab banyak merubah-rubah perintah bisa membingungkan pikiran anak. Anak juga perlu diberi isyarat bahwa landasan aturan itu adalah dorongan rasa cinta dan saling pengertian, bukan karena untuk menerapkan 
hukuman dan teguran Islam tidak melihat penerapan hukuman kecuali sebagai salah satu sarana jika keadaannya sudah memaksa, untuk menata anak dan mengembalikannya ke jalan Islam yang benar. Islam tidak menggunakan hukuman kecuali setelah penggunaan sarana-sarana yang lain dan setelah masyarakat minim dari kejahatan.

 Adapun cara-cara yang ditempuh Islam dalam menghukum anak adalah:

a. Dasar memperlakukan anak ialah dengan cara yang lembut dan penuh kasih-sayang.[

 Al-Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adabul Mufrad,

عليك با لرفق واياك والعنف والفحش

“Hendaklah engkau lemah lembut  dan jauhilah kekerasan dan kekejian.

 Muslim meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu alaihi wasallam pernah mengutusnya bersama Mu’adz ke Yaman, dan beliau bersabda kepada keduanya,

يسراولاثعسراوعلما ولاتنفرا

“Permudahlah dan janganlah mempersulit, ajarkanlah ilmu dan janganlah kalian berdua menghindar.”

Yang pasti, perlakuan dengan cara lemah lembut merupakan dasar perlakuan beliau terhadap anak-anak. Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “saya pernah melihat nabi shallallahu alaihi wasallam berpidato. Lalu Al-Hasan dan Al-Husain datang sambil membawa dua helai berwarna merah. Keduanya berjalan lalu tergelincir. Beliau turun dari mimbar, 
mengambil dan merengkuh keduanya dengan dua tangan beliau, kemudian bersabda,

انما اموالكم واولادكم فتنة نطرت الي هذين الصبيبين يمشيان ويعثران فلم اصبرحتي قطعت حديثي ورفعتهما

“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah fitnah (cobaan). Kulihat dua anak ini berjalan dan tergelincir. Maka aku pun tidak kuat menahan sabar hingga aku harus memotong pembicaraan dan kuangkatlah keduanya.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi).

 An-Nasai dan Al-Hakim meriwayatkan bahwa tatkala Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam shalat mengimami orang-orang, tiba-tiba Al-Husain mendatangi beliau lalu menunggangi leher beliau, yang saat itu sedang sujud. Beliau memanjangkan sujudnya tatkala mengimami orang-orang itu, sehingga mereka mengira telah ada sesuatu yang terjadi pada diri rasulullah. Seusai shalat mereka berkata: “Engkau telah memanjangkan sujud wahai rasulullah sehingga kami mengira telah ada sesuatu yang terjadi.”

Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya anakku (cucuku) ini telah menunggangiku. Maka aku merasa enggan untuk mendahuluinya sehingga dia merasa cukup dengan keinginannya.”

 Dari Anas, bahwa rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah melewati sekumpulan anak-anak, lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka. (Diriwayatkan Muslim).
 Dari Anas dia berkata, “Saya menjadi pembantu rasulullah shalllalahu 
alaihi wasallam, sedang saya saat itu berumur delapan tahun. Sekalipun beliau tidak pernah mencelaku karena kesalahan yang kulakukan. Jika di antara keluarga beliau ada yang mencelaku, maka beliau bersabda, “Biarkan saja anak itu. Sebab kalaupun dia diberi ketetapan, maka itu pula yang akan terjadi.”
 Asy-Syaikhani meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata, “Ada seorang Arabi mendatangi rasulullah shallallahu alaihi wasallam, seraya berkata, “Kalian suka memeluk anak-anak, sedangkan kami tidak pernah mencium mereka.”
 Maka beliau bersabda, “Saya tidak kuasa menjaminmu bahwa Allah akan menghilangkan kasih sayang dari hatimu.”(Diriwayatkan Muslim).

b. Memperhatikan tabiat anak yang menyimpang tatkala menerapkan hukuman.

 Kecerdasaan dan perangai anak-anak saling berbeda, begitu pula pembawaan mereka, tergantung kepada kepribadian mereka. Di antara mereka ada yang pembawaannya tenang dan kalem, ada pula yang pembawaannya biasa-biasa, ada pula yang pembawaannya keras dan temperamental. Semua ini kembali kepada faktor keturunan, pengaruh lingkungan, perkembangan dan pendidikannya. Sebagian anak ada yang justru efektif jika dipandang dengan wajah cemberut dan masam tatkala dia perlu dibenahi. Anak lain ada yang perlu mendapat hukuman, ada pula yang perlu pukulan tongkat jika nasehat tidak lagi efektif baginya atau cukup dengan menggunakan hardikan.

Menurut pendapat mayoritas pakar pendidikan Islam, seperti Ibnu Sina, Al-Abdali, dan Ibnu Khaldun, pendidik tidak perlu memukul kecuali setelah memberikan peringatan dan ancaman,sebagai upaya untuk mewujudkan tuntutan dan memperbaiki anak serta membentuk akhlaknya.
Ibnu Khaldun menetapkan di dalam muqaddimah-nya, bahwa kekerasan yang diberlakukan terhadap anak justru akan membiasakannya bersifat penakut dan lari dari tugas-tugas kehidupan. Dia berkata, ‘Jika orang yang mendidik anak suka bersikap keras dan memaksa, maka sikap keras dan paksaan ini akan menekan jiwanya, sehingga menghilangkan semangatnya, mendorongnya bersikap malas, suka berdusta dan berkilah, karena dia takut tamparan tangan yng dijatuhkan kepadanya. Pola kekerasan ini juga mengajarinya untuk melakukan tipu muslihat dan mencari-cari alasan, yang akhirnya hal ini mnejadi kebiasaannya dan merusak makna-makna kemanusian di dalam dirinya.

 Ibnu Khaldun menerangkan secara panjang lebar dampak negative dan kesudahan yang menyedihkan, sebagai akibat dari adanya paksaan, tekanan dan penggunaan kekerasan terhadap anak. Dia berkata, “Anak yang selalu mendapat tekanan, akan menjadi beban bagi orang lain. Sebab dia akan menjadi orang yang tidak mampu melindungi kehormatan dirinya dan keluarganya, karena di dalam dirinya tidak terdapat keranian dan perlindungan, tidak memiliki hasrat untuk mendapatkan keutamaan dan akhlak yang baik. Oleh karena itu jiwanya menyimpang dari sasaran yang hendak dituju dan arah kemanusiaannya.”
 c. Mencari solusi secara bertahap, berangkat dari cara yang ringan dan beralih ke cara yang berat.
 Hukuman yang diberikan pendidik terhadap anak harus sampai pada tahapan yang terakhir. Artinya di sana ada tahapan-tahapan solusi dan pengajaran yang harus dilewati pendidik sebelum dia menggunakan pukulan. Sebab siapa tahu tahapan-tahapan itu justru bisa mewujudkan tujuan untuk membenahi penyimpangan anak, memperbaiki keadaannya, mengangkat akhlak dan jiwa sosialnya, sehingga dia benar-benar menjadi orang yang lurus. Sebab jika pendidik itu ibarat dokter, sebagaimana yang dikatakan Imam Al-Ghazali, “Tak berbeda jauh dengan seorang dokter yang tidak boleh mengobati penyakit dengan satu cara pengobatan saja, karena takut ada dampaknya. Begitu pula pendidikan. Dia tidak boleh memecahkan berbagai problem anak dan meluruskan penyimpangannya dengan cara mendampratnya secara langsung, karena dia dibayangi ketakutan jika penyimpangan itu semakin menjadi-jadi dan tidak bisa lagi dibenahi.”
 Dengan kata lain, anak harus diperlakukan dengan cara yang sesuai dengan keadaannya, harus dicari apa di balik kesalahan yang dilakukan anak, harus dipertimbangkan usia anak yang melakukan kesalahan, tingkat kecerdasan dan lingkungannya. Semua ini bisa membantu pendidik untuk menyelidiki penyimpangan yang dilakukan anak dan mengetahui penyakitnya, lalu bisa memilih solusi apa yang cocok untuk anak. Selagi pendidik sudah tahu penyebab timbulnya penyakit dan di bagian mana bersarangnya penyakit , tentu dia bisa memilih mana solusi yang paling tepat dan mana jalan yang harus dia tempuh, sehingga dia bisa membuat anak sembuh kembali.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menunjukkan jalan yang jelas di hadapan para pendidik untuk menuntaskan penyimpangan anak, bagaimana mengarahkannya, melempangkan bengkoknya dan membentuk akhlak serta mentalnya, agar para pendidik bisa mengambil mana yang paling baik dan memilih mana yang paling afdhal dalam mengarahkan anak, hingga pada puncaknya mereka benar-benar bisa memperbaiki anak dan membenahinya, menjadikannya orang yang mukmin dan bertaqwa.(bersambung….) Ummu Faqihah

Maraji’: Ensiklopedi Wanita Muslimah by Haya Binti Mubarok Al-Barik