Alhamdulillah tepatnya pada malam ahad 12 Shafar 1438 bertepatan 12 November 2016 Jajaran Majlis Ma’had Al Binaa dibawah Pimpinan Ustadz Aslam Muhsin Abidin, Lc telah mengadakan pertemuan dengan para alumni dari santri kafalah (yateem). Tidak kurang dari 30 orang yang hadir dalam acara silaturrahmi tersebut dari mulai angkatan pertama sampai berikutnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mudirul Ma’had kembali mengingatkan mereka akan tanggung jawab yang sangat berat terhadap keberlangsungan uumat ini dalam situasai dan zaman yang kita alami bersama ini. Hal yang paling urgent yang disampaikan adalah pentingnya mengelola urusan dakwah ini sehingga menjadi satu tanggung jawab bersama (amal jama’i) Dan alumni kafalah Al Binaa adalah salah satu bagian dari ummat ini yang akan memajukan realita kontek dakwah secara kekinian. Santri Kafalah berangkat untuk mengusung dajwah ini bukan sendiri sendiri. Kalau-lah hanya urusan sendiri hal itu sangat mudah untuk dilakukan dan nyaris sedikit pula halangan dan rintangannya. Tapi tentu sangat berbeda manakala urusan dakwah ini kalau sudah melibatkan banyak orang dari beraneka ragam dan unsur.
Contohnya kalau hanya dilakukan oleh seorang muslim saja apabila dia mau shalat cukup shalatlah dengan sendiri, Seorang yang hanya bertugas mengisi taklim, cukuplah dengan apa yang telah disampaikan dia sudah merasa puas. Atau seseorang yang menjadi guru kalau hanya motifnya untuk sendiri tentu dia akan merasa puas dengan ilmu yang sudah ditrasnferkan tidak lagi memikirkan apa sebetulnya hal itu sudah bisa dicerna atau bermanfaat bagi ummat?. mengajar tinggal hanya mengajar saja tanpa ada nilai dan ruh yang justru itu menjadi motivasi untuk kekukatan.
Berbeda sekarang dengan seorang muslim  yang muslim tersebut adalah sebagai ummat. Dia akan memiliki banyak tanggung jawab dan rasa yang dimilikinya. Misalkan ketika dia masuk masjid, dia akan punya tanggung jawab yang besar, ketika melihat muslim lain di masjid yang belum sadar apa yang sebenarnya harus dia lakukan, maka dia akan ,mengingatkannya mulai dari shalat sunnah tahiyatul masjid, berdo’a antara adzan dan iqomah, membaca qur’an dan kebaikan lain yang bisa seseorang dilakukan di masjid. Seorang yang menjadi guru, tentu tangung jawab dipundaknya akan hadir bahwa dia adalah mewakili ummat dia mengajar denghan penuh rasa tanggung jawab karena segala kebaikan pasti akan kembali kepada dirinya begitu juga sebaliknya. Makanya kenapa Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam disebut ummat dalam Al Qur’an walaupun dia seorang diri, rahasianya bahwa Nabi Ibrahim  ‘alaihissalam memikul urusan ummat dengan segala kemaslahatan ke depan dan resiko sangat berat yang dia hadapi.
Jadi Pimpinan Pesantren menyampaikan bahwa yang berat ini adalah mengeksiskan ummat sebagai ummat yang lain. Bagaimana muncul sikap tanazzul (mengalah) demi untuk kebaikan bersama, muncul sikap tasammuh (toleransi) intinya apa yang akan dilakukan akan cukup banyak pertimbangan untuk segala kebaikan ummat ini. Makanya dalam situasi seperti saat ini  dalam kontek dakwah harus lebih jelas dan terang bahwa kita ini ada di barisan mana apakah hanya untuk kebaikan sendiri atau kebaikan untuk ummat muslim yang lain?.
Al Binaa bermimpi bahwa para alumni kafalah  bisa membuka Pesantren Alumni, karena kita sadar betul bahwa hampir tiba masanya ummat Islam ini akan dirobek dan dicabik dari segala penjuru arah ibarat hidangan. Pertahanan kita harus kuat, memikirkan untuk kesuksesan sendiri sangat gampang tidak banyak resiko, tapi lain halnya kalau memikirkan kesuksesan untuk ummat tidak gampang. Jadi kalau ada yang mengatakan ummat Islam harus bersatu sepertinya itu masih omong kosong selama belum bisa meninggalkan atribut pribadi masing masing, karena pada prinsipnya kontek ummat harus dijaga secara ummat bukan menjaga area lokal masing masing.
Maka berangkat dari rumah yang ada sekarang di Jakarta yang disediakan untuk para alumni Al Binaa terlebih untuk para alumni kafalah harus menjadi sentral untuk membangun realita dakwah untuk ummat. Kalian harus bisa memberikan kontribusi kepada ummat yang kontrukstif, disana mengisi kajian, mengisi kegiatan anak-anak di lingkungan sekitar, membuka kursus bahasa arab dan inggris, membuka latihan beladiri dan lain sebagainya. Dan ingat bahwa sebagai sentrak kegiatan adalah berangkat dari Masjid, tetap harus memakmurkan masjid dengan senantiasa mentauhidkan Allah Jalla wa ‘Ala karena itulah sebenarnya yang paling ditakuti oleh musuh-musuh Islam.
Ditulis: Oleh Majlis Ma’had Al Binaa